Balada Keistimewaan

Dengan segala derasnya informasi yang amat sangat mudah kita dapatkan dari kotak kecil super pintar yang selalu kita bawa kemana-mana. Kita selalu disuguhkan dengan kehidupan yang super istimewa dan super sempurna. Memang tidak bisa kita pungkiri tujuan di ciptakannya media sosial adalah untuk men-share momen yang membahagiakan, otomatis kesempurnaan hidup orang lain lah yang kita lihat.

Contohnya dalam suatu potret keluarga TNI yang bahagia, sang istri selalu men-share foto saat keluarga mereka sedang berwisata dan tertawa bersama, namun dibalik satu foto bahagia itu. Sang istri haruslah melewati masa-masa kesepian menunggu suaminya yang sedang ditugaskan di bagian negara lain, sedikit kabar saja bisa sangat membuatnya bahagia, karena menandakan bahwa suaminya ternyata baik-baik saja dan selamat dalam menjalankan tugas. Atau momen kesedihan lain dimana sang istri harus sekali lagi melepas kepergian sang suami entah untuk berapa lama, harus menghadapi pertanyaan anaknya setiap pagi “Kapan ayah pulang?” atau “Ayah pergi kemana lagi?” yang sebenarnya sang istripun tidak tau bagaimana menjawab pertanyaan sederhana itu.

Potret sederhana bahwa istimewa dan kesempurnaan sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Namun karena kita dengan mudahnya dibanjiri keistimewaan dari orang lain yang menyebabkan kita merasa kitapun harus menjadi seistimewa orang lain, dan ketika ternyata kita tidak dapat mencapainya maka yang kita rasakan adalah rapuh dan hancur yang sehancur-hancurnya. Merasa bahwa kita tidak akan sesukses itu dan merasa bahwa bila hidup tak sistimewa orang lain maka hidup kita tidak berarti dan tidak bahagia.

Mark Manson dalam bukunya Sebuah Seni untuk Berpikir Bodo Amat mengatakan bahwa “Gempuran omong kosong yang tidak realistis dari media ini menciptakan perasaan ketidaknyamanan dalam diri kita, dengan terlampau sering menampilkan pada kita sebuah standar yang tidak masuk akal dan mustahil dihidupi. Kita tidak hanya akan merasa terpojok oleh masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan, kita juga merasa seperti pecundang karena dengan satu pencaharian sederhana lewat Google saja, akan muncul ribuan orang tanpa problem dihidupnya.”

Jika kamu orang yang masih membandingkan hidup anda dengan orang lain, masih membayangkan bagiamana nikmatnya hidup menjadi orang lain dan merasa tidak bahagia dengan hidupmu. Tolong hentikan, hidup kamu sangat berarti dan unik sehingga tidak dapat ditiru oleh orang lain. Setiap kegagalan, setiap cacian, setiap makian dan setiap tangis dalam hidupmu adalah pesakitan yang akan membawa kita menjadi pribadi lebih baru dan lebih kuat. Satu-satunya hal yang harus kita bandingkan adalah pribadi kita yang sebelumnya dengan pribadi kita yang sekarang, kesalahan apa yang perlu kita benahi dari diri kita yang sebelumnya. Bukan malah membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. So please, stay happy and love your live.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s