Menulis

Menulis itu susah, menulis itu berat, menulis itu tidak mudah, tidak ada waktu untuk menulis, banyak tugas dan banyak rapat lagipula aku merasa aku belum pantas untuk menulis. Yah itulah yang menghambatku selama ini kenapa baru sekarang aku memberanikan diri dan mempublikasikan tulisanku. Dan aku yakin itu pasti juga bersarang di otak kalian yang ragu-ragu untuk menulis. Di suatu malam akhirnya aku mendapatkan ilham setelah membaca tulisan dari Mas Budi Waluyo. Maybe he doesn’t know how much he inspire me and how strength his article make me to start something that I afraid to start. Tulisan Mas Budi yang berjudul “Kenapa Harus Menulis” sangat mengisnpirasiku. Terimakasih Mas Budi:’)

Lewat tulisan dia aku sadar bahwa semua pemikiranku tadi adalah sesuatu yang membatasiku selama ini dan membuatku stuck dikeadaan yang ‘seperti ini’ terus-menerus. Aku yakin kalian semua punya mimpi besar, begitu pula aku. Aku gadis desa dari Kota Madiun yang punya mimpi luar biasa. Di postinganku selanjutnya akan kuceritakan mimpi-mimpiku. Disini aku hanya akan membahas bagaimana aku melepaskan diri dari pikiran yang membatasiku ini.

Mari kuceritakan. Dimulai dari..

Menulis itu susah, menulis itu berat, menulis itu tidak mudah. Jelas menulis itu susah dan tidak mudah karena apa yang kamu tuliskan akan dibaca dan diingat oleh orang lain. Sehingga tidak boleh sembarangan dalam membuat tulisan, terlebih lagi tulisan ilmiah. Namun sesuatu yang susah belum tentu tidak mungkin bukan untuk dilakukan? Menulis itu berat, menuliskah yang berat atau niatmu saja yang kurang bulat untuk melakukannya? Think about it.

Tidak ada waktu untuk menulis, banyak tugas dan banyak rapat dan lagipula aku merasa aku belum pantas untuk menulis. Soekarno, Muhammad Hatta dan orang-orang besar lainnya adalah orang-orang yang mempunyai kesibukan jauh lebih banyak dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dihidup mereka, namun mereka menyempatkan waktu mereka untuk menulis. Karena apa? Menulis adalah cara mereka mewariskan pemikiran-pemikiran besar mereka ke generasi selanjutnya secara lengkap, akurat dan terperinci. Tanpa takut akan tergerus oleh zaman. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Sekarang aku mengerti dan paham maknanya. Karena lewat tulisan. Kita bisa selalu hidup dalam setiap tulisan yang kita buat.

Mengenai kepantasan untuk menulis. Bila aku tidak pantas, lantas siapa yang pantas? Aku harus menjadi seperti apa agar disebut layak untuk membuat tulisan? Tidak, kamu tidak harus menjadi seperti apapun. Kamu yang sekarang ini, yang memiliki kebulatan tekad dan tujuan dalam penulisanmu. Ya, kamu sudah pantas. Tulis apa saja yang ada difikiranmu. Tidak perlu menunggu suskesmu dulu baru hendak menulis. Mulailah dari sekarang, kamu semua pantas untuk menulis.

Karena salah satu impian besarku adalah menebar kebermanfaatan. Mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan untukku agar bisa menyalurkan kebermanfaatanku untuk orang lain. Mungkin aku belum memiliki harta yang melimpah ataupun kekuasaan sehingga aku bisa membantu orang lain. Namun aku memiliki akal dan pemikiran yang ingin aku bagi dengan kalian semua. Kalian semua yang mungkin memiliki keraguan dan permasalahan yang sama dengan yang aku hadapi. Karena tidak ada yang tau, sekuat apa tulisanmu kelak akan memberikan semangat dan kebermanfaatan bagi orang lain. Lalu tunggu apalagi? Mungkin Tuhan mentakdirkanmu untuk membaca tulisan ini bukan secara kebetulan. Ada skenario-Nya yang luar biasa yang berusaha ia sisipkan melalui tulisan ini.

Selamat bekerja untuk keabadian đŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s